Global warming, salah satu dari sekian banyak topic yang sangat genjar dibicarakan di masyarakat. Satu pertanyaan akan muncul dari benak kita, Siapa Peduli akan OZON? Dimana seperti yang telah kita ketahui Negara lagi mengalami permasalahan secara besar-besaran yang memperjelas kalau situasi Negara kita sedang tidak menentu, para pejabat baik pengusaha maupun para elit politik yang sibuk dengan urusannya sendiri, mahasiswa lagi seneng-senengnya demo, setiap keluarga pusing mikirin kebutuhan hidup dan embel-embel lain….Bisa terlihat jelas bahwa kayaknya gak ada waktu buat bicara atau cuma sekedar mengingat OZON kita, yang letaknya nun jauh di atas bumi!Padahal, dampak menipisnya lapisan ozon, bisa menimbulkan masalah besar bagi kesehatan manusia, lebih dahsyat dari dampak pergantian seorang presiden. Kanker kulit, penyakit katarak pada mata, ataupun perubahan sistem kekebalan tubuh, juga masalah kerusakan lingkungan. Kerusakan lingkungan mulai dari putusnya rantai makanan pada ekosistem akuatik di laut sampai menurunnya produktivitas tanaman, selain kerusakan material pada bangunan dan benda-benda lainnya yang terbakar sinar matahari.
Bermula dari akibat senyawa-senyawa yang tergolong dalam Ozone Depleting Substances (ODS), Carbon tetra chloride, Metil chloroform, dan Halon , yaitu gas CO2, CH4, O3 dan N2O yang dikenal sebagai gas rumah kaca. ODS adalah senyawa yang mengonsumsi ozon yang berupa senyawa-senyawa Chlor dan Fluor yang terikat pada rantai karbon dalam senyawa organik yang biasanya disingkat menjadi CFC.
Lagipula bila kita telisik lebih jauh, kita bisa mengambil kesimpulan kalau masyarakat tak peduli dengan apa yang terjadi di atmosfir kita. "Kerusakan atau pencemaran di muka bumi saja enggak khawatir, bagaimana dengan kerusakan di lapisan ozon yang semakin hari semakin parah,” seperti yang dituturkan oleh Pramono Mardio, National Project Director Institutional Strengthening for ODS phase out UNDP.
Dampaknya Bagi Kesehatan Manusia
Berbagai masalah kesehatan dapat timbul akibat penipisan lapisan ozon di atmosfir. Misalnya, berubahnya sistem kekebalan yang berdampak pada menurunnya kehasilgunaan program vaksinasi. Vaksin yang disuntikan ke dalam kulit yang terkena radiasi ultra-violet akan memunculkan sel lain selain sel pembuat antibodi, yang disebut sel afektor T. Sel-sel T akan menekan sel antibodi dan biasanya mencegah tubuh menolak zat-zat penting, seperti protein tubuh serta akan mencegah tubuh untuk mengenal vaksin. Sehingga tubuh tidak memproduksi antigen sebagai pertahanan dan tidak mengenal kapan harus mengembangkan kekebalan atas penyakit.
Akibatnya, berkembanglah kanker kulit dan muncul pula sejumlah penyakit karena infeksi. Jenis penyakit yang akan timbul akibat tekanan terhadap respon kekebalan yang disebabkan tingginya radiasi UV-B antara lain kulit, campak, chicken pox, herpes, malaria, leishamaniasis, TBC, kusta, dan infeksi jamur, seperti candidiasis.
Selain itu, penipisan lapisan ozon juga dapat menimbulkan kerusakan pada mata. Penelitian dari US Environmental Protection Agency pada tahun 1985 memperkirakan, bila terjadi penipisan ozon sebesar 1 persen saja, maka akan terdapat tambahan sekitar 100 ribu sampai 150 ribu kasus katarak yang menyebabkan kebutaan. Katarak dan kebutaan diperkirakan akan meningkat bila penipisan lapisan ozon berlangsung terus, karena mata tidak seperti kulit yang sebagian bisa menyesuaikan diri dengan menjadi lebih tebal lapisannya dan menjadi lebih berwarna coklat.
Mata pertama kali memberi respon terhadap imunisasi UV-B yang merusak dengan mengembangkan fotokeratitis (untuk kebutaan salju), di mana bagian depan mata, kelopak mata, dan kulit sekitar mata menjadi merah. Nah, bila terus kena radiasi, akan menimbulkan katarak. Tragisnya, menurut WHO, katarak adalah penyebab 17 juta kasus kebutaan di seluruh dunia.
Masih ada lagi dampak yang patut menjadi keprihatinan kita semua. Selain efeknya mengganggu kesehatan manusia, penipisan lapisan ozon pun berpengaruh besar bagi kehidupan lainnya. Tanaman akan menjadi kerdil pertumbuhannya, tanaman budidaya akan menurun dan hutan-hutan akan rusak.
Di laut, diperkirakan radiasi akibat UV-B yang menembus lapisan ozon berakibat lebih parah. Anak-anak ikan, udang, dan kepiting akan mengalami kerusakan dan kematian. Populasi plankton yang menjadi jaringan makanan hewan laut akan menurun kapasitasnya.
Rusak oleh Khloroflorokarbon
Sherwood Rowland bersama Mario Molina dari University of California adalah orang pertama yang menuding CFC (Khloroflorokarbon) sebagai perusak lapisan ozon. Tudingan Sherwood dan Mario ini ternyata sempat tak ditanggapi dalam Vienna Convention tahun 1985 yang dihadiri 21 negara dan masyarakat Eropa.
Namun, perkembangan selanjutnya ada bukti tak terbantahkan dari British Antartic Survey bahwa CFC menjadi penyebab utama rusaknya ozon. Sampai akhirnya dalam Montreal Protocol tahun 1987, keluarlah himbauan agar seluruh negara di dunia terutama negara-negara industri untuk mengurangi penggunaan CFC dan halon. Protocol ini diratifikasi 36 negara mencakup negara konsumen CFC di dunia.
Dan produk berteknologi yang penggunaan CFCnya besar-besaran adalah antara lain alat pendingin (lemari es, AC) sebagai aerosol, pembersih dan bahan pembuat busa.
Menurut Pramono Mardio, bahan CFC biasa digunakan pada produk
berteknologi seperti di lemari pendingin (lemari es) dan menjadi unsur penting pada unit AC besar dan sistem AC kendaraan(sebagai aerosol). CFC pun digunakan untuk membuat berbagai jenis produk, seperti bantal kursi, kasur busa, kemasan, bahan isolasi bangunan, roda kemudi, bumper mobil, dan jaket penyelamat di laut. Bahan CFC lainnya dipakai sebagai bahan pelarut, propelan pada, dan untuk prosedur strelisasi di rumah sakit.Pramono mengakui, Indonesia meski belum maksimal dan masih jauh tertinggal dari negara-negara Asia lain seperti Malaysia dan Singapura, yang telah melakukan upaya-upaya penggantian bahan ramah ozon yang non CFC, non Halon, dsb sejak tahun 1992. Bahkan saat ini mereka telah berhasil menghapuskan sebanyak kurang lebih 6.000 ton bahan-bahan perusak ozon tersebut pada berbagai keperluan.
"Kita memang tertinggal dalam hal penghapusan ODS ini, karena memang ada kendala di pendanaan, kondisi geografis, dan status kita sebagai negara konsumen bahan-bahan perusak ozon tersebut," imbuhnya memberi alasan.
Indonesia dan negara-negara artikel lainnya, (negara pengkonsumsi ODS) masih punya waktu hingga 2010 untuk mengganti bahan-bahan perusak ozon dengan bahan-bahan yang lebih bersahabat. Meskipun ada keinginan dari negara-negara maju agar bisa lebih cepat dari tahun yang ditargetkan.
"Dengan bantuan dana dari badan-badan international itu diharapkan dapat membantu percepatan penggantian ODS di dunia industri dan kampanye untuk peduli ozon baik dari kalangan industri maupun masyarakat. Data yang ada di Kementerian Lingkungan Hidup tercatat, sudah 179 perusahaan kecil dan menengah mendapat bantuan dari tiga lembaga international itu dan 18 perusahaan lainnya akan mendapat bantuan dari UNDP tahun 2001 ini," jelasnya.Jadi, ingatlah, menipisnya lapisan ozon bukan sebagai masalah global negara lain ataupun masalah pemerintah. Tapi menjadi masalah bersama yang jika dibiarkan akan berbahaya. Juga pada diri kita sendiri. Maka dari itu marilah kita bersama menyerukan STOP GLOBAL WARMING. Setuju?
