Jumat, 13 Juni 2008

Resensi Ketika Cinta Bertasbih #2

Buku yang aku baca ini adalah lanjutan dari Ketika Cinta Bertasbih #1…Dimana kalau menurut aku cerita yang ditampilkan bagus…karena Kang Abik disini menampilkan sisi moral yang sangat baik untuk dapat diteladani. Namun, cerita yang bagus juga harus dipadukan dengan teknik pengeditan yang bagus pula. Karena jika tidak, sedikit atau banyak pasti akan mengganggu pembaca. Aku rasain banget waktu membaca Ketika Cinta Bertasbih 2.

Dibandingkan Ketika Cinta Bertasbih 1, kali ini penulis menemukan banyak sekali typhoo atau salah ketik yang terdapat di novel ini. Selain itu, banyak juga penyebutan nama karakter yang salah. Sebagai contoh, pada situasi di mana hanya ada Husna dan Azzam, di salah satu percakapan Azzam malah menyebutkan nama Anna.

Bayangin aja waktu kita tengah menikmati suatu alur cerita yang seru, kemudian nama salah satu karakter di dalamnya salah dengan menyebut nama karakter yang lain. Hal tersebut pastilah sangat mengganggu konsentrasi dan kepuasan para pembaca.Menurut penulis, novel yang bagus bukan hanya dilihat dari segi cerita namun keseluruhan paket novel di mana di dalamnya juga terdapat teknik pengeditan yang baik. Mungkin novel ini hanya bisa dibilang cukup bagus karena paket sebuah novel yang bagus tidak bisa pembaca dapatkan di novel ini.

Menurut salah satu pembaca lain novel ini, hal tersebut mungkin dikarenakan waktu pengerjaan yang hanya 1 bulan. Tapi hal tersebut seharusnya tidak menjadi alasan karena pastinya pembaca tidak akan keberatan menunggu lama untuk sebuah novel dengan paket dan kualitas yang baik.

Ringkasan ceritanya….:

Azzam, seorang sosok pemuda sederhana yang sedang menyelesaikan studinya di Kampus Al Azhar. Tapi karena kewajibannya sebagai anak tertua dalam keluarga setelah bapaknya meninggal, dialah yang menanggung kehidupan keluarganya yang ada di Solo.

Jadilah selain sebagai mahasiswa, dia juga bekerja keras untuk memenuhi kewajibannya sebagai kepala keluarga. Agar dia bisa membantu ibunya dan agar adik-adiknya mendapatkan pendidikan yang layak, Azzam rela meninggalkan kuliahnya untuk sementara dan lebih berfokus untuk mencari rezekinya dengan berjualan tempe dan bakso.

Meski terkadang ada rasa iri melihat teman teman satu angkatannya yang sudah terlebih dahulu lulus, bahkan ada yang hamper menyelesaikan S2-nya tapi Azzam segera sadar kalau dia tidak sama dengan teman-temannya yang lain. Azzam lebih dikenal sebagai tukang tempe di kalangan mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di Al Azhar.

Selain itu Azzam juga sering mendapatkan undangan dari duta besar Indonesia yang ada di Mesir untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pada acara-acara kebesaran. Jadi selain terkenal di kalangan mahasiswa sebagai tukang tempe, Azzam juga cukup terkenal di kalangan para duta besar. Dari sinilah Azzam mengenal sosok Eliana.

Azzam dikenal sebagai sosok yang tegas dan dewasa. Dia sangat memegang teguh prinsip-prinsip Islam dalam kehidupan sehari-harinya. Di kalangan teman-temannya pun Azzam menjadi panutan dan sosok yang bisa diandalkan.Eliana, putri salah satu duta besar Indonesia di Mesir pernah cukup memikat hatinya. Eliana adalah sosok yang sempurna secara fisik. Putri duta besar, cantik dan salah seorang lulusan universitas Jerman. Selain itu dia juga sedang mulai merambah ke dunia sinetron. Bahkan dia sudah membintangi sebuah sinetron yang cukup memikat hati para penonton di Indonesia. Tapi prinsip-prinsip keIslaman yang Azzam pegang teguh membuat Azzam mampu menepis perasaannya.

Di sini juga Azzam untuk pertama kalinya bertemu secara tidak sengaja dengan Anna Althafunnisa, seorang perempuan yang hendak ia lamar tapi kemudian ditolak oleh kerabat dekatnya Anna karena dia merasa Azzam tidak cukup pantas untuk Anna. Azzam akhirnya mampu melanjutkan kuliahnya setelah adiknya menyelesaikan pendidikannya.

Dan setelah dia lulus dari AL Azhar dengan nilai yang cukup memuaskan, akhirnya setelah 9 tahun terpisah dengan keluarganya tanpa pernah pulang, dia pun pulang dan kembali ke tengah-tengah keluarga tercintanya.Lanjutan cerita Ketika Cinta Bertasbih ini masih sangat menarik dari segi cerita. Intinya, musti baca bukunya!

Bahaya KLONING pada HEWAN

Kloning pada hewan. Aku kontra/tidak setuju terhadap kloning pada hewan. Karena hewan merupakan salah satu makhluk ciptaan Tuhan, yang tentunya tidak selayaknya untuk digandakan (dikloning). Tuhan menciptakan makhluk-makhluknya dengan membawa sifat yang berbeda-beda, karena Tuhan telah menciptakan segala sesuatu dengan memperhitungkan ukuran dan kesesuaian untuknya (makhluk hidup), serta telah mempersiapkan kondisi-kondisi yang cocok baginya (makhluk hidup). Mengkloning tentulah sangat melanggar, terutama didasarkan pada nilai-nilai keagamaan.

Pengkloningan hewan lebih banyak gagal dari pada berhasil. Berdasarkan data yang ada, satu-satunya hasil cloning hewan yang sangat kontoversial dan berhasil hidup paling lama dan adalah domba/biri-biri yang diberi nama “Dolly” (1997-2006). Domba Dolly mati akibat menderita penyakit persendian.

Ujicoba klon pada binatang yang selama ini telah dilakukan, lebih banyak menghasilkan bayi klon yang mati ketimbang yang hidup. Misalnya saja kelompok yang dipimpin Atsuo Ogura dari institut nasional untuk penyakit infeksi di Tokyo Jepang, melakukan kloning tikus jantan dan mengamati hasilnya. Dari 12 tikus kloning sepuluh diantaranya mati setelah berumur dua setengah tahun. Pembedahan bangkai tikus klon menunjukan penyakit yang berbeda-beda yang menyebabkan kematiannya. Ada yang mati karena radang berat paru-paru, kanker paru-paru, leukemia dan matinya jaringan hati. Sementara ujicoba klon tikus betina di Universitas Cincinnati Ohio yang dilakukan tim yang dipimpin Randall Sakai, menemukan penyebab lain, yakni kematian akibat kelebihan lemak. Pada binatang percobaan memiliki cacat yang bervariasi, akibat proses pemrograman balik oleh sel tsb. Hal inilah yang sampai sekarang tidak teratasi.

Seperti pendapat Arthur Caplan, pakar etika kedokteran Universitas Pennsylvania bahwa percobaan pada hewan umumnya hanya menciptakan satu keberhasilan dalam 400 percobaan. Caplan mengatakan. kloning juga sangat berbahaya Jika Anda melihat apa yang terjadi pada kloning hewan, setengah jumlah hewan hasil kloning mati dalam waktu satu tahun, sementara mereka yang bertahan hidup mengalami gangguan kesehatan.

Dalam sector pangan, hasil kloning hewan belum dipercaya untuk bisa dikonsumsi. Hal ini terjadi karena sejumlah pihak mengatakan bahwa daging serta susu dari hewan hasil kloning seperti sapi belum terjamin dalam hal kualitas kesehatannya dan gampang sekali memiliki penyakit prion, salah satu jenis penyakit akibat rekayasa genetika. Faktanya adalah seperti di Jepang, ±530 Sapi dan ±246 Babi hasil rekayasa genetika (kloning) yang berstasus tidak jelas karena masih menunggu persetujuan untuk bisa dikonsumsi. Maka dari itu sama saja untuk dalam waktu dekat tetap tidak mempunyai manfaat.

Pada intinya, proses kloning adalah rangkaian eksperimen yang rumit dan memerlukan faktor keberuntungan, serta menggunakan dana atau biaya yang tidak sedikit. Bayangkan saja setiap pengkloningan membutuhkan dana yang besar, padahal dari 100 pengkloningan belum tentu ada yang berhasil. Secara logis, tentunya bisa dikalkulasikan berapa besar dan yang dibutuhkan. Bisa dikatakan terlalu banyak mengalami rugi, terutama bagi Negara yang belum mampu secara ekonomi financial.

Selain itu, kloning terhadap hewan dapat merusak struktur genetika hewan. Karena dengan mengkloning hewan, struktur genetika bawaan hasil kloning hewan dapat mempengaruhi, mengacaukan struktur genetika hewan yang ada.. Yang selanjutnya membawa dampak ke ekosistem.