Jumat, 13 Juni 2008

Bahaya KLONING pada HEWAN

Kloning pada hewan. Aku kontra/tidak setuju terhadap kloning pada hewan. Karena hewan merupakan salah satu makhluk ciptaan Tuhan, yang tentunya tidak selayaknya untuk digandakan (dikloning). Tuhan menciptakan makhluk-makhluknya dengan membawa sifat yang berbeda-beda, karena Tuhan telah menciptakan segala sesuatu dengan memperhitungkan ukuran dan kesesuaian untuknya (makhluk hidup), serta telah mempersiapkan kondisi-kondisi yang cocok baginya (makhluk hidup). Mengkloning tentulah sangat melanggar, terutama didasarkan pada nilai-nilai keagamaan.

Pengkloningan hewan lebih banyak gagal dari pada berhasil. Berdasarkan data yang ada, satu-satunya hasil cloning hewan yang sangat kontoversial dan berhasil hidup paling lama dan adalah domba/biri-biri yang diberi nama “Dolly” (1997-2006). Domba Dolly mati akibat menderita penyakit persendian.

Ujicoba klon pada binatang yang selama ini telah dilakukan, lebih banyak menghasilkan bayi klon yang mati ketimbang yang hidup. Misalnya saja kelompok yang dipimpin Atsuo Ogura dari institut nasional untuk penyakit infeksi di Tokyo Jepang, melakukan kloning tikus jantan dan mengamati hasilnya. Dari 12 tikus kloning sepuluh diantaranya mati setelah berumur dua setengah tahun. Pembedahan bangkai tikus klon menunjukan penyakit yang berbeda-beda yang menyebabkan kematiannya. Ada yang mati karena radang berat paru-paru, kanker paru-paru, leukemia dan matinya jaringan hati. Sementara ujicoba klon tikus betina di Universitas Cincinnati Ohio yang dilakukan tim yang dipimpin Randall Sakai, menemukan penyebab lain, yakni kematian akibat kelebihan lemak. Pada binatang percobaan memiliki cacat yang bervariasi, akibat proses pemrograman balik oleh sel tsb. Hal inilah yang sampai sekarang tidak teratasi.

Seperti pendapat Arthur Caplan, pakar etika kedokteran Universitas Pennsylvania bahwa percobaan pada hewan umumnya hanya menciptakan satu keberhasilan dalam 400 percobaan. Caplan mengatakan. kloning juga sangat berbahaya Jika Anda melihat apa yang terjadi pada kloning hewan, setengah jumlah hewan hasil kloning mati dalam waktu satu tahun, sementara mereka yang bertahan hidup mengalami gangguan kesehatan.

Dalam sector pangan, hasil kloning hewan belum dipercaya untuk bisa dikonsumsi. Hal ini terjadi karena sejumlah pihak mengatakan bahwa daging serta susu dari hewan hasil kloning seperti sapi belum terjamin dalam hal kualitas kesehatannya dan gampang sekali memiliki penyakit prion, salah satu jenis penyakit akibat rekayasa genetika. Faktanya adalah seperti di Jepang, ±530 Sapi dan ±246 Babi hasil rekayasa genetika (kloning) yang berstasus tidak jelas karena masih menunggu persetujuan untuk bisa dikonsumsi. Maka dari itu sama saja untuk dalam waktu dekat tetap tidak mempunyai manfaat.

Pada intinya, proses kloning adalah rangkaian eksperimen yang rumit dan memerlukan faktor keberuntungan, serta menggunakan dana atau biaya yang tidak sedikit. Bayangkan saja setiap pengkloningan membutuhkan dana yang besar, padahal dari 100 pengkloningan belum tentu ada yang berhasil. Secara logis, tentunya bisa dikalkulasikan berapa besar dan yang dibutuhkan. Bisa dikatakan terlalu banyak mengalami rugi, terutama bagi Negara yang belum mampu secara ekonomi financial.

Selain itu, kloning terhadap hewan dapat merusak struktur genetika hewan. Karena dengan mengkloning hewan, struktur genetika bawaan hasil kloning hewan dapat mempengaruhi, mengacaukan struktur genetika hewan yang ada.. Yang selanjutnya membawa dampak ke ekosistem.

Tidak ada komentar: